Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Penggerak Pembina Generus LDII

Penggerak Pembina Generus LDII - PPG atau kepanjangan dari Penggerak Pembina Generus adalah suatu tim yang dibentuk dengan tujuan untuk memupuk, meramut, dan menciptakan bibit – bibit unggul didalam warga ldii.

Dibentuknya PPG ini juga merupakan usaha untuk tetap menjaga keimanan para generasi penerus ldii hingga akhir jaman, walaupun telah ada dalil yang menjelaskan bahwa kondisi keimanan dari tahun ke tahun akan semakin memburuk dari tahun sebelumnya.Namun hal tersebut tidaklah menyurutkan para ulama ldii untuk tetap berusaha menjaga keimanan para generasi penerusnya. Para ulama ldii justru semakin berusaha untuk meningkatkan kepahaman pada tiap – tiap warga ldii terutama generasi penerus sehingga diharapkan semakin lama semakin baik dan dipertahankan hingga akhir hayatnya.

Jika diumpamakan sekarang ini tingkat kepahaman generasi penerusnya saja kurang, maka tidak menutup kemungkinan 30 tahun yang akan datang keimanan bisa saja hanya menjadi suatu kenangan semata, dan tentunya kita semua tidak ingin hal tersebut terjadi bukan ?!

PPG bukanlah suatu tim yang hanya dibentuk di daerah Surabaya saja, namun PPG juga telah meluas keseluruh Indonesia bahkan hingga luar negeri. Untuk wilayah Surabaya, PPG diketuai oleh Bapak H. Imam Pujiarto.

PPG didaerah Surabaya, khususnya daerah Surabaya Tengah kita ini Alhamdulillah sudah berjalan dengan lancar, dan perlu diketahui, PPG juga mempunyai program turba ke seluruh daerah Surabaya Tengah, tak terkecuali untuk warga jamaah Masjid Luhur Al Ikhlas Semampir kita ini. Kegiatan turba tersebut dimaksudkan untuk mengontrol dan mengevaluasi apakah pembinaan generasi penerus sudah berjalan dengan baik ataukah belum.

Tanggal 13 April 2011 yang lalu kegiatan turba PPG telah dilakukan untuk warga masjid Luhur Al Ikhlas Semampir. Kegiatan tersebut dilaksanakan di kediaman Bapak H. Musdiq Ali Suhudi selaku takmir masjid Luhur Al Ikhlas. Adapun kegiatan yang dilakukan pada saat itu adalah laporan evaluasi tentang kegiatan mulai dari acara muda – mudi, Generasi Penerus (GP), Generasi Mandiri (GM), hingga caberawit.

Hasil yang diharapkan dari turba tersebut yaitu mencari masukan dan juga evaluasi agar kedepannya tim PPG Masjid Luhur Al Ikhlas Semampir bisa berjalan semakin baik, dan syukurlah pada turba kali itu tim PPG kita mendapat banyak masukan.

PPG tentunya tidaklah bisa berjalan dengan sempurna tanpa adanya dukungan dari semua warga Masjid, ayo kita dukung dan bantu para tim PPG dalam menjalankan tugas – tugasnya !!! (nne)

Sumber : http://ldiisurabaya.org/penggerak-pembina-generus-ldii/

Pendidikan Umum LDII Untuk Para Santri

Pendidikan Umum LDII - Sementara itu, di Ponpoes Gadingmangu Jombang, sistem pendidikannya berupa klasikal. Artinya, Ponpes ini mengasuh santri-santriwati berupa pendidikan umum, yakni SMP, SMA dan SMK serta menerapkan jenjang pendidikan.

Meskipun di Ponpes Gadingmangu membuka pendidikan umum, namun pendidikan agama diberikan secara intensif. Ponpes yang berdiri tahun 1950 oleh H Bay Prawiranoto seorang Kepala Desa Gadingmangu Jombang bersama H Nur Hasan yang sekarang dipimpin KH Ahmad Fathoni menerapkan pendidikan agama berupa membahas Alquran berupa Qiraatil Shab’a. Hadits, nahu shorof, dan faraidh menggunakan Kutubussittah.

Sementara prestasi yang dicapai para santri-santriwati yang kini berjumlah 3.500 orang di Ponpes ini lulus 100 persen dalam Ujian Nasional (UN) tahun 2011 ini. Ponpes ini juga menerapkan Shalat Tahajjud setiap malamnya dimulai pukul 02.00-03.00 Wib di Masjid Luhur di lingkungan Ponpes.

Berbagai kegiatan dilakukan Ponpes Gadingmangu. Di antaranya, pelatihan dakwah bekerjasama dengan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta Diklat Iqro tingkat regional.

Banyak ulama yang berkunjung ke Ponpes Gadingmangu. Seperti, Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat KH Ma’ruf Amin serta ulama dari sejumlah kabupaten/kota di Aceh dan Jawa.(HA Ramadhan)

SAKSIKAN: Rombongan ulama Medan didampingi Pimpinan Ponpes Wali Barokah H Sunarto (kanan) menyaksikan para sanri-santriwati yang sedang mempelajari hadits, Selasa (14/6). (Foto: Skala/Ramadhan)

FOTO BERSAMA: Ulama Medan foto bersama pengurus Ponpes Gadingmangu Jombang dipimpin Ketuanya KH Ahmad Fathoni (kedua dari kanan) usai Shalat Magrib Masjid Luhur Ponpes itu, Selasa malam (14/6)
Kunjungan “Muhibbah Tabayyun” Ulama Medan ke LDII-BAWAH HAL 1
Tidak Berbeda Shalat Warga LDII dengan Komunitas Umat Islam
*Hubungan LDII dengan Umaro dan Ulama Cukup Baik
Medan (Skala)

Ketua Umum DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Prof Dr Ir KH Abdullah Syam MSc mengatakan, hubungan antara LDII dengan umaro (pemimpin) dan ulama dimana saja berjalan cukup baik.

“Jikapun ada pihak-pihak yang tidak menyukai LDII dengan menyebarkan isu, fitnah hingga tuduhan LDII sebagai aliran sesat, karena ada kecenderungan kecemburuan sosial. Sebab, dalam sistem pendidikan di Pondok-pondok pesantren (Ponpes) di bawah naungan LDII, kurikulumnya sangat jelas,” katanya ketika menerima kunjungan silaturahmi “Muhibbah Tabayyun” 3 ulama Medan bersama wartawan di Sekretariat DPP LDII kawasan Senayan Jakarta, Rabu (15/6).

Ketiga ulama utusan MUI Medan itu masing-masing Ketua Komisi Dakwah dan Luar Negeri KH Zulfiqar Hajar, Penasihat MUI Medan yang juga Ketua Umum Majelis Dzikir Tazkira Sumut KH Amiruddin MS dan anggota MUI Medan yang juga dosen Fakultas Kedokteran USU Drs H Amhar Nasution MA. Sedangkan turut mendampingi mereka Ketua DPW LDII Sumut Ir H Agus Purwanto, Qari Muhammad Syafii Ssos dan wartawan Skala Indonesia Drs H A Ramadhan Lubis.

Sedangkan Ketua Umum DPP LDII H Abdullah Syam didampingi sejumlah pengurus teras masing-masing Ir H Chriswanto Santoso MSc, H Sobar Widianda, H Mhd Siddiq Waskita, H Aceng Komarullah, H Ahmad Kuncoro, H Tri Gunawan, Rio Sidauruk dan Hari Sumiarta.

Menurut H Abdullah Syam, sejak dahulu warga LDII tetap berpegang teguh kepada Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW serta mempedomani keputusan ulama.

Karena itu, ujarnya, adanya isu, tudingan, fitnah hingga tuduhan LDII merupakan aliran sesat sama sekali tidak benar.

“Dalam pendidikan di Ponpes yang kita bina, para santri-santriwati diajar tentang Alquran dan tafsirnya. Begitu juga mempelajari hadits-hadits Nabi Muhammad melalui “Kutubussittah” (6 kitab yang masyhur dan muktabar). Jadi, setiap ada kunjungan ulama atau siapa saja ke Ponpes-ponpes kita selalu ajak mereka untuk melihat langsung perpustakaan yang kita miliki dengan buku-buku dan kitab-kitab yang lengkap,” jelasnya.

“Saat ini kita menguatkan pendidikan kejuruan ke pasar Australia. Apalagi, umat Islam di negara itu sangat ‘haus’ pelajaran tentang agama Islam,” tambahnya.

Selain memfokuskan dalam bidang pendidikan, kata H Abdullah Syam, LDII juga turut membangun kesehatan. Karena itu, klinik ada di Ponpes-ponpes akan kita tingkatkan menjadi rumah sakit.

“Dalam sosial-kemasyarakatan, kita turut berpartisipasi. Seperti, sarasehan lingkungan dan gerakan penghijauan, pelatihan dai-daiyah, seminar hingga pencanangan Gerakan Penghijauan Nasional “LDII Go Green” di Makassar Sulawesi Selatan pada 21 Juni 2010,” jelasnya.

Sebelum bersilaturahmi ke pengurus DPP LDII, rombongan ulama Medan terleih dahulju bersilaturahmi ke pengurus DPW LDII Jawa Timur (Jatim) di sekretariatnya bagaikan gedung bank berlantai 3 di Jalan Gayungan Surabaya Selatan.

Dalam kunjungan silaturahmi “Muhibbah Tabayyun” untuk cek dan ricek dan melihat secara langsung aktivitas warga LDII di Jatim, rombongan ulama diterima secara persaudaraan oleh Ketua DPW LDII Jatim Ir H Chriswanto Santoso MSc didampingi pengurus lain Ir H Samiyono MM, H Hasan Yuswadi dan Bambang Raditya SE MM (unsur wakil ketua), Ir H Dedid Cahya H MT (sekretaris), H Ali Zuhdi SH (bendahara yang juga anggota MUI Jatim) dan Ir H Maun MM (wakil bendahara).

Dalam pertemuan itu, Ketua LDII Jatim H Chriswanto sangat bergembira dan berterimakasih atas kunjungan “Muhibbah Tabayyun” ulama dari Medan. Sehingga, semuanya akan semakin jelas, apakah benar LDII sebagai aliran sesat atau tidak sama sekali.

Dalam hal ini pimpinan rombongan KH Zulfiqar Hajar merasa salut atas penyambutan yang sangat baik dari pengurus LDII Jatim. Ini menunjukkan LDII mengaplikasikan dan mengamalkan hadits Nabi Muhammad SAW yang maknanya:” Siapa-siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, maka hendaklah dia dapat memuliakan tamu”.

Setelah itu, rombongan mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Wali Barokah Kediri dan Ponpes Gadingmangu Jombang.

Dari kunjungan kedua Ponpes besar dan pusat pendidikan, khususnya di Ponpes Wali Barokah Kediri yang memiliki Masjid Baitul A’la dengan menara “Asmaul Husna” setinggi 99 meter (23 lantai), rombongan merasa kagum dengan kedisiplinan, kekompakan, keakraban, kerukunan dan persatuan di antara warga LDII serta kebersihan yang senantiasa dijaga. Sehigga, mereka menerapkan “batas suci”, khususnya hendak masuk ke masjid.

Dalam beribadah, khususnya shalat wajib tidak terjadi perbedaan secara mendasar dalam melaksakan 13 rukun shalat, meskipun secara “fur’iyyah” sedikit berbeda. Misalnya, mereka tidak menjaharkan (menjelaskan) bacaan “Basmallah”, tetapi “disirkan”. Begitu pula tidak membaca doa qunut saat Shalat Subuh. Tetapi, mereka mau mengangkat tangan saat KH Zulfiar Hajar memimpin doa.

Begitu juga mereka setiap malam Shalat Tahajjud dan membaca Alquran menjelang shalat wajb dilaksanakan serta mempelajari tafsir Alquran, kitab-kitab hadits muktabar, yakni Kutubussittah yang lengkap tersedia di perpustakaan

Dalam masalah kebersihan, mereka sangat menjaganya. Sehingga, mereka menerapkan “batas suci” di masjid. Ini sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yang artinya: “Kebersihan itu bagian dari iman”. Sehingga, kotoran menjadi “musuh” bagi mereka. Bahkan, menara agung (Asmaul Husna) Masjid Baitul A’la di Ponpes Wali Barokah Kediri tidak terdapat kotoran, baik di anak maupun pegangan tangga besi hingga pada setiap lantai menara.

Jadi, apa yang dituduhkan pihak-pihak bahwa LDII adalah aliran sesat sama sekali tidak benar.(ral)

FOTO BERSAMA: Rombongan ulama Medan dipimpin KH Zulfiqar Hajar (kelima dari kiri) diapit Ketua DPW LDII Jatim H Chriswanto Santoso (keenam dari kiri) foto bersama di depan prasasti LDII Jatim di Kota Surabaya Selatan, Senin (14/6). (Foto: Skala/Ramadhan)

Sumber : http://ldiisurabaya.org/pendidikan-umum-ldii/

Sistem Pembelajaran LDII di Ponpes Wali Barokah dan Gadingmangu

Sistem Pembelajaran LDII - Keistimewaan LDII dalam memberikan pembelajaran kepada para santri-sanriwati di Ponpes Wali Barokah Kediri dan Ponpes Gadingmangu Jombang menerapkan sistem pembelajaran modul dan klasik.

Dalam kunjungan ulama Medan beserta wartawan Skala ke Ponpes Wali Barokah Kediri, rombongan mendapat banyak informasi.

Dalam penyampaian tentang sistem pembelajaran di Ponpes Wali Barokah Kediri, H Kholil Ansyari seorang guru di Ponpes itu yang belajar ilmu agama di Mekkah, Arab Saudi selama 10 tahun kepada rombongan ulama dari Medan memaparkan, Ponpes Wali Barokah yang dulunya bernama Ponpes LDII dirintis pada tahun 1951 oleh KH Nur Hasan Al-Ubaidah dan H Ahmad Ibrahim yang sekarang dipimpin H Sunarto MSi yang mengasuh 3.000 santri-santriwati merupakan Ponpes tradisional plus berupa diniyah Salafiyah.

Artinya, para santri selain diajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga mendidik mereka menjadu da’i-daiyah yang andal. Sehigga, setiap bulan bisa menghasilkan 400 dai-daiyah yang siap diterjunkan berdakwah di seluruh PD dan PAC LDII se-Indonesia. Karena, mereka memiliki akhakulkarimah, alim dan terampil (Tri Sukses).

Program pendidikan yang dijalankan, lanjutnya, beranjak dari keperluan umat Islam untuk memperbaiki akidah, ilmu, amal, akhak dan muamalah. Sedangkan pembelajarannya tidak menerapkan tingkatan kelas 1 dan seterusnya. Namun, memberlakukan kelas khat, tafsir Alquran serta pengetesan terakhir untuk menjadi seorang muballigh-mubalighah.

“Jadi, mereka dipersiapkan untuk menjadi guru-guru mengaji dengan segmen terhadap orang-orang yang awam tentang agama. Karena itu, Ponpes ini lebih menonjolkan sistem modul dalam pembelajarannya,”katanya yang dalam pertemuan itu dihadiri segenap staf dan guru, termasuk Pimpinan Ponpes H Sunarto.

Sejumlah petinggi negara pernah hadir di Ponpes Wali Barokah Kediri ini. Di antaranya Menteri Dalam Negeri Rudini yang meresmikan Ponpes Wali Barokah pada tahun 1991. Tahun 2000 pembangunan Menara Agung “Asmaul Husna” Masjid Baitul A’la di lokasi Ponpes oleh Menteri Agama dan beberapa bulan kemudian diresmikan M Jusuf Kalla yang saat itu masih sebagai Menko Kesra.

Sumber : http://ldiisurabaya.org/sistem-pembelajaran-ldii/

Tips Manfaatkan Social Media bagi Guru & Murid

Manfaatkan Social Media bagi Guru & Murid - Siapa bilang jejaring sosial seperti Twitter, Facebook (FB) hanya menganggu belajar? Tunggu dulu, justru dengan situs gaul itu, guru bisa bikin proses belajar lebih menyenangkan. Kalau sebelumnya tanya jawab soal pelajaran hanya berlangsung di ruang kelas, maka dengan adanya social media, hal itu bisa dimungkinkan kapan saja dan dimana saja. Bayangkan, bertanya soal PR atau tugas-tugas yang kurang jelas cukup melalui Twitter dengan me-mention guru, asyik bukan? Atau jika ada rumus yang bikin pusing, bisa tanya ke teman yang jago matematika lewat FB.



LDII Internet Sehat

Biar lebih enak, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan guru untuk mengarahkan pemanfaatan social media ini untuk kepentingan belajar mengajar, misalnya:

Tanya, social media apa yang paling banyak dipakai para murid?

Ini penting, sebab sia-sia saja seorang guru aktif di Twitter kalau ternyata muridnya sebagian besar lebih aktif di FB, atau kebalikannya. Bikin saja survei saat di kelas, dengan demikian guru tahu jenis social media mana yang paling banyak diminati muridnya. Jika Twitter paling banyak dipakai, maka ajaklah murid yang belum pakai Twitter untuk bikin akun di sana. Lalu mulai deh saling follow. Demikian juga apabila FB lebih banyak disukai, ajak murid lain bergabung di sana.

Optimalkan Groups dan komunitas

Dalam beberapa social media seperti FB dan Google Plus, ada fitur Groups yang bisa dioptimalkan sebagai ajang diskusi. Kalau di Twitter dapat menggunakan hashtag atau taggar agar mempermudah klasifikasi diskusi kelompok dengan siswa dan guru. Dengan menggunakan fitur-fitur ini maka murid dan guru tidak akan “tersesat” dalam komunikasi yang lebih umum, melainkan lebih spesifik ke pembahasan sesuai topik yang mereka inginkan. Ini juga menghindari pencampuradukan antara isu pibadi dan isu sekolah.

Perjelas batasan privasi

Sampaikan ke para siswa, informasi mana yang layak menjadi konsumsi umum atau yang menjadi privasi. Misalnya ada hal-hal yang hanya boleh di-share ke kalangan sekolah saja, atau boleh dibagikan ke umum. Dengan begitu siswa paham, mana info yang dapat ia share ke teman-teman satu sekolah, atau ke semua teman di jejaring sosialnya. Ini demi menghindari kesalahpahaman atau bocornya info tertentu yang dapat memicu miskomunikasi pihak luar.

Pemanfaatan sosial media untuk aktivitas belajar mengajar ini sudah cukup banyak dilakukan di negara maju. Ayo, sudah saatnya Indonesia juga membiasakannya.

Sumber : http://ldiisurabaya.org/tips-manfaatkan-social-media-bagi-guru-murid/